Latar Belakang
Kecerdasan Emosional atau biasa dikenal EQ selalu dibarengi dengan SQ. EQ adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontroll emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Sedangkan SQ merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi sehingga ia mampu menjadi seseorang yang berkarakter dan berwatak positif. Oleh sebab itu pada agama Islam EQ lebih menekankan pada bagaimana mengontrol hawa nafsu dan SQ mengajarkan bagaimana mengonteriensasikan semua amal sesudah mati. Mengonteriasasikan adalah bagaimana mmenggunakan amal tersebut.
Pada pembahasan kali ini, kami akan membahas Tarbiyah Ulul Albab lebih dalam yaitu tentang Perbandingan Kecerdasaan Emosional dan Spiritual Perspektif Konfensional dan Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Keceerdasan Emotional ?
2. Apa pengertian Kecerdasan Spiritual ?
3. Jelaskan perbandingan kecerdasan Emosional san Spiritual dalam Islam ?
A. Tujuan Penelitian
1. Menjelaskan pengertiannnnn Kecerdasan Emoitional.
2. Mmenjelskan pengertian Kecerdasan spiritual.
3. Menjelaskan perbandingan kecerdasan Emotional dan Spiritual dalam Islam.
A. Pengertian Kecerdasan Emotional
Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ dalam bahasa Inggris disebut dengan emotional quotient yang dimaksud dengan EQ adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan inntelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan konstribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan atau keterampilan dalam mengendalikan diri, memiliki semangat dan ketekunan yang tinggi. Dimensi kecerdasan emosional dibagi menjadi kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan pribadi terkait dengan kemampuan mengelola diri sendiri yang mencakup kesadaran diri, sedangkan kecakapan sosial terkait dengan kemampuan dalam melakukan hubungan dengan orang lain (empati)
Pengaturan diri adalah mengelola kondisi, kata hati, dan sumberdaya diri. Pengaturan diri terkait dengan pengendalian diri, sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, dan inovasi. Pengendalian diri terkait dengan mengendalikan diri dalam keadaan dan situasi apapun. Motivasi diri penting karena motivasi memiliki kecenderungan emosi mengantar atau memudahkan peraihan sasaran. Dengan kita memiliki motivasi diri, kita akan terus bersemangat melakukan hal-hal yang terbaik yang kita miliki dalam diri kita.
Keterampilan sosial adalah kepandaian dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. keterampilan sosial terkait dengan pengaruh, komunikasi, membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain, katalisator perubahan memulai dan mengelola perubahan, manajemen konflik yaitu negosiasi dan mengelola perubahan, pengikat jaringan, kolaborasi dan kooperasi, dan kemampuan tim.
B. Pengertian Kecerdasan Spritual
Kecerdasan spiritual itu merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi sehingga ia mampu menjadi seseorang yang berkarakter dan berwatak positif.
Spiritualitas itu mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaan. hakikat manusia itu dapat ditemukan dalam perjumpaan manusia dengan Allah. “Potensi fitrah membantu manusia untuk mencari something out there that are unknown (sesuatu di luar sana yang tidak diketahui). Allah itu amat bernilai, tetapi tersembunyi. Tetapi, rahmat Allah mengatasi batas-batas buatan manusia sehingga manusia paham tentang Allah. Dikatakan cerdas karena manusia senantiasa ingat pada Allah ketika ia melakukan kegiatannya.
Kecerdasan sesorang dapat diukur dari kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua amalnya pada kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual). Mereka yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian, mereka juga percaya bahwa setiap amalan di dunia sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.
Keyakinan tentang keabadian, menjadikannya lebih berhati-hati dalam menapaki kehidupan di dunia ini, sebab mereka percaya bahwa kehidupan ini tidak sekali di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang lebih hakiki. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa yang menanam padi akan menuai padi. Siapa yang menanam angin akan menuai badai.
Tidak hanya bersikap hati-hati, orang yang cerdas spiritual nya lebih bersemangat, lebih percaya diri dan lebih optimis. Mereka tidak pernah ragu-ragu berbuat baik, sebab jika kebaikannya tidak bisa dinikmati saat di dunia mereka masih bisa berharap mendapatkan balasannya di akhirat nanti. Jika tidak bisa dinikmati sekarang, amal kebaikan itu akan berubah menjadi tabungan atau deposito secara otomatis yang kelak akan dicairkan justru pada saat mereka sangat membutuhkan di alam kehidupan sesudah mati.
C. Perbandingan Kecerdasaan Emosional dan Spiritual Perspektif Konvensional dan Islam
Dalam agama islam kecerdasaan emosi lebih mengarahkan bagaimana kita bisa mengalahkan hawa nafsu. Karena kecerdasan sesorang dapat diukur dari kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua amalnya pada kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual). Mereka yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian, mereka juga percaya bahwa setiap amalan di dunia sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.
Keyakinan tentang keabadian, menjadikan lebih berhati-hati dalam menapaki kehidupan di dunia ini, sebab percaya bahwa kehidupan ini tidak sekali di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang lebih hakiki. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa yang menanam padi akan menuai padi. Siapa yang menanam angin akan menuai badai.
Tidak hanya bersikap hati-hati, orang yang cerdas spiritual nya lebih bersemangat, lebih percaya diri dan lebih optimis. Mereka tidak pernah ragu-ragu berbuat baik, sebab jika kebaikannya tidak bisa dinikmati saat di dunia mereka masih bisa berharap mendapatkan balasannya di akhirat nanti. Jika tidak bisa dinikmati sekarang, amal kebaikan itu akan berubah menjadi tabungan atau deposito secara otomatis yang kelak akan dicairkan justru pada saat mereka sangat membutuhkan di alam kehidupan sesudah mati.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar